![]() |
Asep Rahmat Permana,SHI,SH Ketua DPC Grib Jaya Garut |
SGJabar – Aksi Mafia Pupuk bersubsidi sudah meresahkan
masyarakat petani di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Ketua Dewan Pimpinan Cabang
(DPC) Ormas Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu Jaya (Grib Jaya) Kabupaten Garut,
Asep Rahmat Permana, SHI, SH meminta pemerintah Bersama aparat penegak hukum
memberantas sindikat mafia pupuk bersubsidi tersebut.
“Masalah pupuk subsidi adalah persoalan
yang selalu dikeluhkan petani. Hal ini tentunya menjadi masalah klasik yang
sampai sekarang belum terselesaikan,” kata Kang AR (sapaan akrab Asep
Rahmat-red).
Sebut Kang AR telah mendapatkan laporan
terjadinya dugaan penyalahgunaan pupuk bersubsidi di wilayah distribusi Kecamatan
Talegong, Kabupaten Garut. Praktek penyalahgunaan itu dikeluhkan para petani
yang tidak memperoleh pupuk bersubsidi.
"Secara singkat saya sampaikan
bahwa dari kasus ini saya sudah mengantongi bukti-bukti adanya penyalahgunaan
pupuk bersubsidi tersebut yang mengakibatkan terjadinya kelangkaan pupuk dan kerugian
masyarakat petani," ujar Kang AR kepada wartawan, di Markas Komando DPC
Grib Jaya, Vila Guntur Sari, Senin (07/10/2024).
Dia menyebutkan modusnya adalah
memasukan data petani penerima pupuk yang sudah meninggal dunia dan orang-orang
yang sudah tidak Bertani lagi dalam daftar penerima pupuk bersubsidi.
“Dari bukti-bukti itu, kami menemukan
adanya praktik distribusi ilegal pupuk bersubsidi yang ditengarai melibatkan
oknum Kepala Desa, kios resmi dan oknum aparat. Diantaranya merekayasa Surat
Kuasa pembelian pupuk subsidi di kios resmi dengan cara memalsukan tanda tangan
pemberi kuasa yang sudah meninggal dunia. Pada surat kuasa itu terdapat
cap setempel dan tandatangan kades setempat,” ungkapnya.
Menurut Kang AR, para pelaku memanfaatkan dengan modus memalsukan data-data para penerima pupuk bersubsidi tersebut. Kemudian, setelah pupuk didapat maka oleh para pelaku dijual kepada yang bukan berhak, dengan Harga Eceran Tertinggi (HET).
Kepada wartawan, Kang AR belum mau mengunkapkan lokasi desa sebagai tempat kejadian perkara dan serta identitas para pelakunya. "Maaf, kami belum mengungkapkan TKPnya serta identitas yang terlibat. Karena kami masih mengumpulkan bukti dan keterangan lainnya, untuk melengkapi sebagai pengaduan ke Kejaksaan Negeri Garut," jelas Kang AR.***